Home » Articles posted by operator

Author Archives: operator

Belenggu Pedagogi Kekerasan

Oleh: Augustinus Widyaputranto

Jatuhnya korban jiwa di dalam institusi pendidikan tinggi hanya dalam kurun waktu dua minggu di awal tahun 2017 ini semakin memperpanjang rantai kekerasan dalam dunia pendidikan yang tak kunjung putus di negeri ini.

Tewasnya satu mahasiswa STIP Jakarta dan tiga mahasiswa UII Yogyakarta yang diduga akibat penganiayaan, semakin memperkuat dugaan bahwa habitus kekerasan masih mencengkeram dunia pendidikan dan sikap mental bangsa ini.

Habitus ini tidak hanya mencengkeram dunia pendidikan tinggi namun juga pendidikan dasar dan menengah.

Habitus Kekerasan

Wajah kekerasan dalam perploncoan atau pelatihan, dalam proses pembelajaran ataupun kultur sekolah/perguruan tinggi sepertinya sudah menjadi tradisi yang diwariskan dalam pendidikan di Indonesia.

Rekam jejak rantai kekerasan ini sudah terpatri dalam memori generasi sebelumnya, yang menganggap ritus kekerasan sebagai bagian yang bernilai dalam pendidikan mereka.

Ingatan historis kekerasan secara tak sadar membentuk habitus dan kultur kekerasan dalam dunia pendidikan dan masyarakat. Dalam habitus dan kultur kekerasan, tindakan kekerasan fisik dan verbal bagi publik dianggap wajar, bahkan mendidik.

Dalam logika ini, proses “mendidik” terjadi dalam proses: pembangkangan – pendisiplinan melalui kekerasan – keberhasilan yang dicirikan melalui kepatuhan dan konformitas peserta didik pada perspektif dan sikap yang dianggap guru/dosen/instruktur benar.

Pedagogi seperti inilah yang membentuk generasi sebelumnya dan diyakini masih diterapkan hingga kini.

Habitus dan kultur kekerasan ini tidak terlepas dari konteks sosio-kultural-historis bangsa di mana kultur militeristik pernah sangat dominan.

Konsepsi dan model pendidikan nasional yang hadir di ruang kelas peserta didik dan institusi pendidikan guru/dosen sudah sejak lama dibangun dalam kultur militeristik.

Konsep kepemimpinan, kedisiplinan, dan konformitas nampak dijunjung tinggi dan selalu dipersepsikan dalam kultur militer: baris berbaris, seragam, dan kepatuhan.

Saat ini pun pendekatan militeristik masih dipakai sebagai bagian dari proses inisiasi pegawai baru maupun bina lanjut pegawai di institusi pemerintahan ataupun BUMN bahkan swasta.

Masyarakat dan institusi sipil negara nampaknya sangat miskin akan model pedagogi di luar pendekatan militeristik.

Cari Aman dan Konformis

Kultur pendidikan dengan metode intimidatif, militeristik, dan tidak dialogis pada dasarnya memiliki filosofi bahwa manusia hanya bisa berkembang melalui pemaksaan dan tekanan.

Pedagogi ini tidak berangkat dari keyakinan bahwa setiap pribadi adalah pembelajar yang positif dan unik. Baginya, keterampilan berdialog, menerima perbedaan dan keunikan bukanlah keutamaan fundamental.

Peserta didik tidak dilatih untuk bisa mandiri berpendapat, memiliki integritas, dan bersikap otentik, namun lebih condong pada kepatuhan dan konformitas atas nama semangat korsa.

Individu kemudian terbiasa mencari aman dan konformis dalam kelompoknya. Celakanya, pola-pola konformitas, cari aman dan ikut arus bisa menjadi iklim tumbuh dan terpeliharanya budaya koruptif yang sistemik.

Sangat logis pula bila dewasa ini ada kesulitan dalam masyarakat untuk berdialog dan menerima perbedaan.

Paradigma Pedagogi Reflektif

Secara pedagogis, proses pembelajaran pada esensinya adalah kegiatan yang cerdas dan partisipatif yang mengembangkan otonomi berpikir, kreativitas, serta membentuk kompetensi dan sikap bertanggung jawab.

Kegiatan ini harus merangsang peserta didik agar secara reflektif dapat menemukan dan membangun dirinya yang otentik, dalam proses belajar di masing-masing jenjang melalui dinamika interaksi yang sehat dengan para pendidik, peserta didik lainnya, tenaga kependidikan, keluarga, serta masyarakat sekitarnya.

Peserta didik harus dilatih untuk berpikir, menganalisa, berdiskresi menimbang-nimbang pilihan, berani berdialog dan berargumentasi secara dewasa dan ilmiah serta lalu mengambil keputusan, bukan sekadar untuk patuh atau konformis.

Dalam konteks Paradigma Pedagogi Reflektif, semua proses ini diolah agar peserta didik dapat menemukan lesson-learned yang menggerakan tiga daya jiwa: ingatan, kesadaran, dan kehendak.

Model pendidikan ini hanya bisa dibangun bila bangsa ini bisa melepaskan diri dari habitus kekerasan, dan memulai habitus dialog yang menghargai perbedaan, agar kita semua menyadari bahwa kekuatan bangsa ini adalah di dalam kemajemukannya, bukan di dalam uniformitas yang dibangun dari paksaan dan tekanan, sebagaimana akhir-akhir ini kita rasakan di dalam kehidupan sosial politik.

Ketidakmampuan untuk berdialog inilah salah satu akar dari rantai kekerasan yang selalu mencengkeram dunia pendidikan kita.

Tentu tidak mudah memutus rantai habitus kekerasan ini. Institusi pendidikan dan para pendidik perlu menemukan model pedagogi pendidikan yang baru untuk menggantikan model pendidikan penuh kultur kekerasan yang selama ini terpelihara.

Oleh sebab itu, dalam konteks nasional yang lebih luas, revolusi mental haruslah kembali menjadi fokus penting Presiden Jokowi, sebagai bentuk gerakan bangsa untuk mau berubah, dan bukan cuma slogan atau program yang ramai di iklan tetapi miskin implementasi dan dampaknya.

Tentu tugas besar berikutnya dari pemerintah dan setiap institusi pendidikan baik dasar, menengah dan pendidikan tinggi adalah membuat kebijakan yang lebih luas untuk menciptakan kultur pedagogis yang jauh dari kekerasan, sehingga dapat membantu peserta didik untuk menjadi warganegara yang demokratis, berintegritas dan bertanggung jawab, yang menjunjung tinggi dialog dan menghargai keragaman dalam hidup bersama.1331291-jitet-ilustrasi-kekerasan-di-sekolah-780x390

Sistem Digital Bisa Kurangi Pemborosan Administrasi di Sekolah

Masih banyak pemborosan yang semestinya bisa diminimalkan, bahkan dihilangkan oleh instansi pendidikan dalam menjalankan fungsi administrasi, baik di sekolah menengah maupun perguruan tinggi. Contohnya penggunaan sistem manual seperti mesin fotokopi, printer, dan kertas.

“Paling sedikit sekolah itu mengeluarkan biaya kira-kira sebesar  Rp 1,3 miliar per tahun untuk biaya penggunaan fotokopi, printer dan penggunaan kertas,” ujar Vincent Kwan, Chief Excecutive Officer (CEO) Edugate Learning System pada “Fashion & Attitude in Business”, Sabtu (4/2/2017).

Menurut dia, baik sekolah maupun perguruan tinggi di Indonesia saat ini memiliki masalah serius dalam mengelola kegiatannya, terutama jika dikaitkan dengan kendala utama menggunakan sistem manual. Beberapa kendala itu adalah pemborosan biaya, performa sistem yang lamban, tambahan beban kerja, serta tidak interaktif.

Untuk itulah, Vincent dan timnya mengenalkan Edugate Learning System sebagai platform digital yang bisa merapikan sistem manajemen dan administrasi. Ada 120 fitur dalam platform ini untuk mendukung proses belajar dan terintegrasi dengan sistem digital bagi sekolah dan universitas.

Beberapa fitur itu antara lain e-journals, e-book, online chatting, mobile apps, parental control, plagiarism checker dan lain-lainnya. Selain lebih cepat dan hemat, fitur-fitur tersebut membantu pihak sekolah atau perguruan tinggi dan orang tua untuk melakukan pengecekan sebuah karya tulis tergolong plagiat atau tidak, dan forum komunikasi bagi guru, dosen, murid, mahasiswa-mahasiswi, dan orang tua berjalan atau tidak.

“Pendaftaran sekolah atau kampus juga via online dan sistem pembayarannya sudah melalui Payment Gateaway sehingga lebih mudah, efisien dan hemat,” ujarnya.

Vincent menambahkan, setiap pembayaran yang terkait sekolah atau universitas akan mudah terkontrol, termasuk di dalamnya pemberitahuan atas laporan aktivitas siswa yang dapat diakses secara real-time. Setiap waktu guru, dosen, murid, mahasiswa-mahasiswi, dan orang tua bisa mengetahui nilai ujian dan kegiatan belajar-mengajar melalui perangkat elektronik, baik komputer maupun telepon genggam.

“Kami merancang sistem ini sesuai permintaan pihak sekolah dan universitas. Ada server tersendiri untuk mengelola data-data pribadi milik sekolah dan universitas secara mandiri dan terintegrasi,” tutur Vincent.

Sumber : http://edukasi.kompas.com/read/2017/02/06/12310011/sistem.digital.bisa.kurangi.pemborosan.administrasi.di.sekolah

Belajar Kepemimpinan dari Charlie Cappetti

Pertama kali saya bertemu dengan seorang bernama Charlie Cappetti adalah pada CEO Breakfast Gathering, di sebuah tempat di Jakarta Pusat.

Saat saya hendak mengambil secangkir teh, pria ini datang ke saya dan memperkenalkan diri dengan menyebut namanya “Charlie”, saya merespon dengan bercanda “Ooh, Charlie Chaplin?”. Dia tertawa gelak sembari mejawab spontan “No , my name is Charlie Cappetti !”, kami pun berdua tertawa  bersama.

Itulah perkenalan atau perjumpaan saya  yang pertama dengan Charlie Cappeti. Dia orang Belanda yang lama tinggal di Perancis, CEO sebuah perusahaan multi nasional yang sukses.

Satu minggu setelah perkenalan itu, saya dihubungi oleh Charlie yang ingin bertemu dengan saya untuk ngobrol-ngobrol, melanjutkan candaan saat perkenalan pada Breakfast Gathering itu.

Kami bertemu berdua saja , makan siang di sebuah restoran di Jakarta Selatan. Setelah lebih kurang 45 menit  “chit chat”, Charlie mengutarakan maksudnya untuk menawarkan kepada saya apakah bersedia  bergabung ke perusahaannya sebagai “Senior Advisor”.

Beberapa waktu kemudian, stafnya menghubungi saya dan tidak lama kemudian saya menandatangani kontrak sebagai “Senior Advisor” untuk waktu satu tahun, yang akan diperpanjang sesuai kebutuhan.

Singkat kata, saya bergabung tidak sampai satu tahun, karena ada tugas lain  yang berpotensi memunculkan “conflict of interest” , maka saya harus “resign” alias mengundurkan diri.

Pengalaman bersama dengan jajaran manajemen Charlie Cappetti walau amat singkat, sangat berkesan, terutama sekali dalam hal membangun etos kerja para karyawan.

Di sisi lain karena kegiatan sehari-hari perusahaan itu sangat berkait dengan atmosfer keselamatan kerja, maka pekerjaan manajemen untuk membangun “safety-culture” terlihat menjadi lebih rumit.

Setelah beberapa waktu berselang, kemarin saya diundang menghadiri malam apresiasi untuk Charlie Cappetti, yang ternyata setelah lebih kurang 8 tahun bekerja di Indonesia dia memperoleh promosi di tempat baru di luar Indonesia.

Menjadi sangat menarik dalam acara malam apresiasi yang biasa dikenal dengan malam pisah sambut itu adalah, bagaimana jajaran manajemen dan karyawan yang berada dibawah komando dan kendali Charlie menyajikan acara khusus untuk mantan Bos-nya tersebut.

Salah satunya adalah sebuah video yang diberi judul kegiatan harian di kantor tanpa Charlie. Dalam video itu disajikan bagaimana para karyawan datang terlambat dan suka-suka saja dengan irama yang “semau-gue”.

Di bagian lainnya ditampilkan para karyawan yang bekerja dengan meja kerja berantakan tidak keruan, dan lebih parah lagi para karyawan yang bekerja serampangan dan sambil makan dan minum di meja kerja.

Tayangan video yang tidak begitu panjang durasinya itu menampilkan dengan baik bagaimana suasana kerja yang nyaris tanpa disiplin, cenderung “jorok” semau gue dan bahkan tidak pernah menepati waktu jam kerja yang telah ditentukan.

Yang ingin ditampilkan sangat jelas, yaitu bahwa di bawah kepemimpinan Charlie Cappetti selama 8 tahun ternyata ada tuntutan yang sangat ketat tentang  disiplin yang tinggi,  tentang keharusan “tepat waktu” dan mengenai kebersihan dan kerapihan meja kerja yang sekaligus tidak diperkenankan makan dan atau minum di meja kerja.

Disiplin, tepat waktu dan kebersihan sejatinya memang adalah kelemahan dari kita semua. Sementara ketiga hal tersebut justru merupakan kunci utama bagi upaya memperoleh pencapaian kerja yang optimal sekaligus efisien.

Di era globallisasi ini dan terlebih pada bidang kerja yang membutuhkan penggunaan peralatan yang berteknologi tinggi, maka memang tidak bisa ditawar-tawar lagi dituntut disiplin tinggi yang tanpa kompromi.

Disiplin yang dibutuhkan adalah sebuah “self discipline”, yang pasti tidak akan mudah untuk dapat dikembangkan.

Membangun kesadaran diri untuk disiplin dibutuhkan pengawasan ketat yang terus menerus (Continuous closed monitoring).  Namun pengawasan juga akan sia sia juga apabila tidak ada hukuman dengan efek jera bila terjadi pelanggaran dari aturan-aturan yang diberlakukan.

Kelemahan dari kebanyakan kita adalah tiadanya budaya tepat waktu yang sebenarnya berawal dari kesadaran untuk membangun disiplin pribadi.  Di sisi lain kemauan untuk tertib dan menjaga kebersihan selalu saja menjadi masalah yang membutuhkan peringatan berulang-ulang.

Dalam tayangan video Charlie, tercermin dengan sangat jelas kesan dari karyawan terhadap leadership Charlie Cappetti sebagai CEO sebuah perusahaan yang berhasil meraih sukses dalam 8 tahun terakhir masa kepemimpinannya.

Kemampuan leadership dan manajerial seorang CEO memang merupakan kunci keberhasilan dalam setiap tugas yang harus dikerjakan jajaran personil yang berada di bawah kendalinya.

Hal ini tidak mudah, karena untuk mempengaruhi para karyawan agar bekerja dengan baik dan penuh disiplin, yang harus dikerjakan terlebih dahulu adalah memberi contoh atau keteladanan setiap hari.

Adalah mustahil , bila seorang pemimpin menuntut sesuatu kepada anak buahnya, tanpa memberikan contoh terlebih dahulu bahwa dirinya sendiri adalah sosok atau figur yang patut ditiru.

Sekali lagi, apa yang diutarakan para karyawan dalam sebuah tayangan video mencerminkan betapa mereka sebenarnya sangat meng-apresiasi gaya kepemimpinan Charlie Cappetti  dalam bekerja sama selama ini.

Bagi saya sendiri , ini adalah untuk pertamakali menyaksikan pisah sambut seorang Bos, dimana para karyawannya menyajikan tayangan video yang berjudul cukup Unik : “Day without Charlie Cappetti”.

Tanpa penjelasan yang panjang lebar terhadap apa yang telah dilakukan sang CEO dalam masa jabatannya, kami semua yang menyaksikan menjadi paham betul mengenai apa yang telah dikerjakan oleh sang Presdir selama memimpin perusahaannya.

Sejatinya Kepemimpinan adalah “mempengaruhi”, dan langkah lebih lanjut dari upaya “mempegaruhi” adalah dengan cara “memberi contoh – teladan” dalam tampilan kesehariannya.

Satu lagi tambahan pelajaran dari malam pisah itu bahwa betapa setiap orang akan dapat memperoleh manfaat dari pengalaman orang lain untuk bisa lebih mudah menatap tantangan masa depan.

He who does not know the past can never understand the present, and he certainly can do nothing for the future.” ?(John G. Diefenbaker)

Jakarta 6 Februari 2017

Sumber : http://edukasi.kompas.com/read/2017/02/08/17371741/belajar.kepemimpinan.dari.charlie.cappetti

Metode Pengajaran Interaktif Lebih Efektif

Metode pengajaran interaktif dinilai lebih efektif untuk peningkatan kualitas siswa dan guru. Selain lebih menyenangkan, metode itu membuat siswa dan guru lebih mudah memahami materi dan menumbuhkan minat baca keduanya.

“Siswa dan guru lebih antusias menangkap materi pelajaran karena sering bertanya tentang apa yang sudah dibaca dan didengarkan,” kata guru kelas II Sekolah Dasar Negeri (SDN) Pasawahan Kota Bandung, Gita Insani Maryam, seusai mengikuti program “Kids Read 2016” di Kota Bandung, Jawa Barat, Sabtu (11/3).

Acara ini digelar British Council melalui British Council Indonesia Foundation dengan dukungan HSBC Indonesia. Kegiatan itu digelar pada periode Maret-Desember 2016. Pesertanya 30 guru dari 15 SDN di Kota Bandung. Kegiatan dengan tema “The Story So Far” itu menyasar sekitar 2.000 guru dan 24.000 siswa SD di Bandung.

Di Indonesia, program ini baru digelar di Jakarta pada 2015 dan Bandung, tahun lalu. Program yang sama telah berjalan di 13 negara di Timur Tengah dan Afrika Timur sejak 2011.

Gita mengatakan, sebelum ikut program ini, ia kerap mengajar dengan metode satu arah. Ia lebih banyak berceramah sehingga suasana belajar-mengajar kurang efektif, terkesan kaku, dan membosankan.

“Kini, saat metode interaktif ini diterapkan, siswa lebih semangat belajar dan ingin tahu. Sebelum memulai mata pelajaran, siswa akan membaca buku lebih dulu selama 15 menit. Guru menyediakan waktu tanya jawab setelahnya,” ujar Gita.

Dorong minat baca

Direktur Pelatihan dan Pengembangan British Council di Indonesia Michael Little mengatakan, program ini bertujuan mendorong pertumbuhan minat baca di kalangan anak-anak. Siswa diberi pemahaman bahwa membaca merupakan kegiatan yang menyenangkan dan berguna.

“Tidak hanya siswa, guru juga diajak meningkatkan kemampuan belajar mengimbangi aktivitas siswa. Diharapkan metode baru ini dapat menginspirasi guru lain serta dapat ditularkan kepada siswa lain,” ujar Little.

Head of Corporate Sustainability HSBC Indonesia Nuni Sutyoko menambahkan, dalam rangkaian kegiatan ini juga diberikan pelatihan metode bercerita kepada orangtua.

Orangtua diharapkan bisa mendampingi anak-anak mereka belajar di rumah dengan pola yang lebih menyenangkan. Dengan demikian, pemahaman anak-anak terhadap mata pelajaran akan jauh lebih baik.

Kepala Bidang Pembinaan dan Pengembangan Sekolah Dasar Dinas Pendidikan Kota Bandung Supardi mengatakan, metode bercerita ini juga melatih kecakapan emosional siswa dalam berkomunikasi dengan orang lain. (SEM)

sumber : http://edukasi.kompas.com/read/2017/03/13/10155861/metode.pengajaran.interaktif.lebih.efektif