June 2020
M T W T F S S
« Dec    
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
2930  

Profil Magister Teknologi Pendidikan UNILA

Sistem Digital Bisa Kurangi Pemborosan Administrasi di Sekolah

Masih banyak pemborosan yang semestinya bisa diminimalkan, bahkan dihilangkan oleh instansi pendidikan dalam menjalankan fungsi administrasi, baik di sekolah menengah maupun perguruan tinggi. Contohnya penggunaan sistem manual seperti mesin fotokopi, printer, dan kertas.

“Paling sedikit sekolah itu mengeluarkan biaya kira-kira sebesar  Rp 1,3 miliar per tahun untuk biaya penggunaan fotokopi, printer dan penggunaan kertas,” ujar Vincent Kwan, Chief Excecutive Officer (CEO) Edugate Learning System pada “Fashion & Attitude in Business”, Sabtu (4/2/2017).

Menurut dia, baik sekolah maupun perguruan tinggi di Indonesia saat ini memiliki masalah serius dalam mengelola kegiatannya, terutama jika dikaitkan dengan kendala utama menggunakan sistem manual. Beberapa kendala itu adalah pemborosan biaya, performa sistem yang lamban, tambahan beban kerja, serta tidak interaktif.

Untuk itulah, Vincent dan timnya mengenalkan Edugate Learning System sebagai platform digital yang bisa merapikan sistem manajemen dan administrasi. Ada 120 fitur dalam platform ini untuk mendukung proses belajar dan terintegrasi dengan sistem digital bagi sekolah dan universitas.

Beberapa fitur itu antara lain e-journals, e-book, online chatting, mobile apps, parental control, plagiarism checker dan lain-lainnya. Selain lebih cepat dan hemat, fitur-fitur tersebut membantu pihak sekolah atau perguruan tinggi dan orang tua untuk melakukan pengecekan sebuah karya tulis tergolong plagiat atau tidak, dan forum komunikasi bagi guru, dosen, murid, mahasiswa-mahasiswi, dan orang tua berjalan atau tidak.

“Pendaftaran sekolah atau kampus juga via online dan sistem pembayarannya sudah melalui Payment Gateaway sehingga lebih mudah, efisien dan hemat,” ujarnya.

Vincent menambahkan, setiap pembayaran yang terkait sekolah atau universitas akan mudah terkontrol, termasuk di dalamnya pemberitahuan atas laporan aktivitas siswa yang dapat diakses secara real-time. Setiap waktu guru, dosen, murid, mahasiswa-mahasiswi, dan orang tua bisa mengetahui nilai ujian dan kegiatan belajar-mengajar melalui perangkat elektronik, baik komputer maupun telepon genggam.

“Kami merancang sistem ini sesuai permintaan pihak sekolah dan universitas. Ada server tersendiri untuk mengelola data-data pribadi milik sekolah dan universitas secara mandiri dan terintegrasi,” tutur Vincent.

Sumber : http://edukasi.kompas.com/read/2017/02/06/12310011/sistem.digital.bisa.kurangi.pemborosan.administrasi.di.sekolah

Belajar Kepemimpinan dari Charlie Cappetti

Pertama kali saya bertemu dengan seorang bernama Charlie Cappetti adalah pada CEO Breakfast Gathering, di sebuah tempat di Jakarta Pusat.

Saat saya hendak mengambil secangkir teh, pria ini datang ke saya dan memperkenalkan diri dengan menyebut namanya “Charlie”, saya merespon dengan bercanda “Ooh, Charlie Chaplin?”. Dia tertawa gelak sembari mejawab spontan “No , my name is Charlie Cappetti !”, kami pun berdua tertawa  bersama.

Itulah perkenalan atau perjumpaan saya  yang pertama dengan Charlie Cappeti. Dia orang Belanda yang lama tinggal di Perancis, CEO sebuah perusahaan multi nasional yang sukses.

Satu minggu setelah perkenalan itu, saya dihubungi oleh Charlie yang ingin bertemu dengan saya untuk ngobrol-ngobrol, melanjutkan candaan saat perkenalan pada Breakfast Gathering itu.

Kami bertemu berdua saja , makan siang di sebuah restoran di Jakarta Selatan. Setelah lebih kurang 45 menit  “chit chat”, Charlie mengutarakan maksudnya untuk menawarkan kepada saya apakah bersedia  bergabung ke perusahaannya sebagai “Senior Advisor”.

Beberapa waktu kemudian, stafnya menghubungi saya dan tidak lama kemudian saya menandatangani kontrak sebagai “Senior Advisor” untuk waktu satu tahun, yang akan diperpanjang sesuai kebutuhan.

Singkat kata, saya bergabung tidak sampai satu tahun, karena ada tugas lain  yang berpotensi memunculkan “conflict of interest” , maka saya harus “resign” alias mengundurkan diri.

Pengalaman bersama dengan jajaran manajemen Charlie Cappetti walau amat singkat, sangat berkesan, terutama sekali dalam hal membangun etos kerja para karyawan.

Di sisi lain karena kegiatan sehari-hari perusahaan itu sangat berkait dengan atmosfer keselamatan kerja, maka pekerjaan manajemen untuk membangun “safety-culture” terlihat menjadi lebih rumit.

Setelah beberapa waktu berselang, kemarin saya diundang menghadiri malam apresiasi untuk Charlie Cappetti, yang ternyata setelah lebih kurang 8 tahun bekerja di Indonesia dia memperoleh promosi di tempat baru di luar Indonesia.

Menjadi sangat menarik dalam acara malam apresiasi yang biasa dikenal dengan malam pisah sambut itu adalah, bagaimana jajaran manajemen dan karyawan yang berada dibawah komando dan kendali Charlie menyajikan acara khusus untuk mantan Bos-nya tersebut.

Salah satunya adalah sebuah video yang diberi judul kegiatan harian di kantor tanpa Charlie. Dalam video itu disajikan bagaimana para karyawan datang terlambat dan suka-suka saja dengan irama yang “semau-gue”.

Di bagian lainnya ditampilkan para karyawan yang bekerja dengan meja kerja berantakan tidak keruan, dan lebih parah lagi para karyawan yang bekerja serampangan dan sambil makan dan minum di meja kerja.

Tayangan video yang tidak begitu panjang durasinya itu menampilkan dengan baik bagaimana suasana kerja yang nyaris tanpa disiplin, cenderung “jorok” semau gue dan bahkan tidak pernah menepati waktu jam kerja yang telah ditentukan.

Yang ingin ditampilkan sangat jelas, yaitu bahwa di bawah kepemimpinan Charlie Cappetti selama 8 tahun ternyata ada tuntutan yang sangat ketat tentang  disiplin yang tinggi,  tentang keharusan “tepat waktu” dan mengenai kebersihan dan kerapihan meja kerja yang sekaligus tidak diperkenankan makan dan atau minum di meja kerja.

Disiplin, tepat waktu dan kebersihan sejatinya memang adalah kelemahan dari kita semua. Sementara ketiga hal tersebut justru merupakan kunci utama bagi upaya memperoleh pencapaian kerja yang optimal sekaligus efisien.

Di era globallisasi ini dan terlebih pada bidang kerja yang membutuhkan penggunaan peralatan yang berteknologi tinggi, maka memang tidak bisa ditawar-tawar lagi dituntut disiplin tinggi yang tanpa kompromi.

Disiplin yang dibutuhkan adalah sebuah “self discipline”, yang pasti tidak akan mudah untuk dapat dikembangkan.

Membangun kesadaran diri untuk disiplin dibutuhkan pengawasan ketat yang terus menerus (Continuous closed monitoring).  Namun pengawasan juga akan sia sia juga apabila tidak ada hukuman dengan efek jera bila terjadi pelanggaran dari aturan-aturan yang diberlakukan.

Kelemahan dari kebanyakan kita adalah tiadanya budaya tepat waktu yang sebenarnya berawal dari kesadaran untuk membangun disiplin pribadi.  Di sisi lain kemauan untuk tertib dan menjaga kebersihan selalu saja menjadi masalah yang membutuhkan peringatan berulang-ulang.

Dalam tayangan video Charlie, tercermin dengan sangat jelas kesan dari karyawan terhadap leadership Charlie Cappetti sebagai CEO sebuah perusahaan yang berhasil meraih sukses dalam 8 tahun terakhir masa kepemimpinannya.

Kemampuan leadership dan manajerial seorang CEO memang merupakan kunci keberhasilan dalam setiap tugas yang harus dikerjakan jajaran personil yang berada di bawah kendalinya.

Hal ini tidak mudah, karena untuk mempengaruhi para karyawan agar bekerja dengan baik dan penuh disiplin, yang harus dikerjakan terlebih dahulu adalah memberi contoh atau keteladanan setiap hari.

Adalah mustahil , bila seorang pemimpin menuntut sesuatu kepada anak buahnya, tanpa memberikan contoh terlebih dahulu bahwa dirinya sendiri adalah sosok atau figur yang patut ditiru.

Sekali lagi, apa yang diutarakan para karyawan dalam sebuah tayangan video mencerminkan betapa mereka sebenarnya sangat meng-apresiasi gaya kepemimpinan Charlie Cappetti  dalam bekerja sama selama ini.

Bagi saya sendiri , ini adalah untuk pertamakali menyaksikan pisah sambut seorang Bos, dimana para karyawannya menyajikan tayangan video yang berjudul cukup Unik : “Day without Charlie Cappetti”.

Tanpa penjelasan yang panjang lebar terhadap apa yang telah dilakukan sang CEO dalam masa jabatannya, kami semua yang menyaksikan menjadi paham betul mengenai apa yang telah dikerjakan oleh sang Presdir selama memimpin perusahaannya.

Sejatinya Kepemimpinan adalah “mempengaruhi”, dan langkah lebih lanjut dari upaya “mempegaruhi” adalah dengan cara “memberi contoh – teladan” dalam tampilan kesehariannya.

Satu lagi tambahan pelajaran dari malam pisah itu bahwa betapa setiap orang akan dapat memperoleh manfaat dari pengalaman orang lain untuk bisa lebih mudah menatap tantangan masa depan.

He who does not know the past can never understand the present, and he certainly can do nothing for the future.” ?(John G. Diefenbaker)

Jakarta 6 Februari 2017

Sumber : http://edukasi.kompas.com/read/2017/02/08/17371741/belajar.kepemimpinan.dari.charlie.cappetti

.

Kategori Berita